<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>
Menu berita selama seminggu ini adalah Aa Gym poligami….
DUEEEEERRRRRRR….
Waaaaaahhhhhh….
rame dueeehhh….. maklum Aa Gym adalah sosok Kyai yang mempunyai
banyak penggemar baik dari orang tua hingga para remaja terutama kaum
hawa, tapi sekarang jadi terbalik sejak poligami Aa Gym lebih di gemari
oleh kaum laki-laki hehehehe….
Hmmmmm….
jadi ingat rumah….
*********
Pada mulanya
aku adalah orang yang menolak poligami, tapi pandanganku berubah
sejak Abahku menikah lagi. Sosok yang sangat ku kagumi itu menikah
dengan seorang janda.
Kalo di
pikir-pikir apa yang terjadi dengan Aa Gym hampir sama dengan yang
terjadi dalam keluargaku, perbedaannya hanya Aa Gym adalah selebritis
sedang Abah hanya orang biasa hehehehe…(tapi jangan salah Abah
adalah sosok selebritis juga di kalangan keluarga dan para santri).
Abah adalah
pengasuh pondok pesantren di salah satu kota di Jawa Timur, santri
beliau mencapai 10 ribu orang tersebar hampir di seluruh Jawa Timur,
Kalimantang Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan
Selatan, Irian Jaya, dan Ujung Pandang. Beliau juga pernah menuntut
ilmu di Tarim Hadramaud.
Jujur saja
pada saat Abah menikah dengan Ibu haji begitu aku menyebut istri
kedua beliau, ada banyak pertanyaan yang tak bisa terjawab, apa yang
kurang dari Umma, bukankah dari rahimnya telah terlahir generasi
penerus syiar islam, Umma juga sangat cantik, artis India Kareena
Kapoor saja kalah jika dibandingkan dengan kecantikan Umma. Aku juga
tidak pernah melihat Umma berbicara dengan yang bukan muhrimnya, di
mataku sosok Umma itu adalah gambaran seorang wanita, istri dan ibu
yang sangat sempurna. Hingga suatu malam pada saat Abah tidak ada,
aku memberanikan diri untuk bertanya pada Umma di sela-sela
aktifitasku menyiapkan tempat tidur.
“Boleh
Nung bertanya?”, kataku membuka pembicaraan.
“Tanya
aja”
“Apa yang
Umma rasa pada saat Abah menikah lagi?”, tanyaku hati-hati.
Umma
menatapku sambil tersenyum seraya berkata, “Sejak kapan kau ingin
bertanya masalah ini?”
Aku
tersenyum, Umma tahu aku adalah orang yang sangat ekspresif sekali,
jika ada yang mengganggu pikiranku maka aku akan mengatakan atau
bertanya apa saja yang ada di dalam pikiranku, kecuali masalah
poligami Abah berarti hampir 5 tahun berlalu.. Waktu telah berlalu
dengan begitu cepatnya, sebenarnya aku tak ingin mengungkit hal itu
tapi aku tergelitik oleh perasaan ingin tahu apa yang terjadi saat
itu, karena sejauh pengetahuanku Umma tidak pernah kelihatan
bersedih, seolah-olah apa yang terjadi tidak pernah menyakiti
hatinya. Aku mengatakan pada Umma apa yang ada dalam pikiranku selama
ini, dan aku juga mengatakan apapun tidak akan mengubah keadaan yang
telah terjadi dan aku tetap menghormati Ibu haji sebagai istri kedua
Abahku.
“Saat tahu
Abah menikah, Umma langsung mengucap syukur alhamdulillah karena Abah
di lindungi oleh Allah dari perbuatan zina”. Aku duduk diam
mendengarkan apa yang Umma ceritakan, pada saat kejadian itu aku
sedang kuliah tahun pertama di Surabaya. Pada saat Abah membawa Ibu
haji ke dalam lingkungan keluarga, Umma sedang hamil tujuh bulan.
“Tapi pada
saat Abah membawanya kemari, perasaan cemburu tidak bisa Umma
hindari. Pada malam itu Umma marah pada Abah dan mengatakan yang ada
di pikirannya dengan menikahi Ibu haji”, lanjut Umma. Amarah karena
cemburu itu membuat Umma berkata keras pada Abah, sesuatu yang
seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang istri pada suaminya.
Melihat Umma marah, Abah hanya bisa menangis.
“Abah
menangis?” tanyaku pada Umma
“Iya, Abah
menangis sambil mengatakan bahwa Allah yang mengatur semua itu. Abah
juga mengatakan ada tiga hal yang tidak bisa di ubah manusia ketika
di lahir yaitu rizqi, jodoh dan kematian, itu adalah hak mutlak
Allah. Manusia tidak bisa merubahnya”.
“Bagaimana
dengan adil? bukannya Nung meragukan Abah bisa adil atau tidak, yang
Nung tahu Rosulullah menempatkan Aisyah sebagai prioritas utama”.
Aku tahu kadang Abah dari pagi hingga siang ada di rumah Ibu haji,
kemudian malam di rumah atau sebaliknya, belum lagi beliau harus
mengajar anak-anak santri dan tugas dakwah di luar pulau. Dalam
komplek pesantren ada dua rumah induk yang dipisahkan oleh dapur,
rumah depan di tempati oleh Umma dan rumah belakang ditempati Ibu
haji.
“Berusaha
adil iya Nung, kau lihat sendiri bagaimana keseharian Abah”.
Kemudian Umma melanjutkan, “Kau tahu pada saat Ibu haji datang
kesini, Umma mencari dukungan dan dukungan itu datangnya bukan dari
orang lain melainkan dari Abah sendiri. Ibu haji itu mengerti, kalo
Umma lagi ga kepingin ngomong, atau Umma lagi kesel, dia diam aja ga
ngomong apa-apa. Seringkali Umma menumpahkan unek-unek Umma sama dia,
sering dia menjadi tempat Umma menangis karena masalah-masalah yang
terjadi disini. Ibu haji itu orangnya sangat sabar Nung”.
Ini bukan
pertama kalinya Umma memuji Ibu haji, aku sudah sering mendengar kalo
Ibu haji memang orang yang sabar, tidak pernah terdengar dia mengeluh
tentang apapun.
“Kenapa
tidak cerita pada Abah?”
“Abah itu
sudah banyak pikiran Nung, tugas mengajar anak santri, dakwah, Umma
ga mau kalo menambah Abah beban pikiran yang masalah-masalah yang
terjadi dalam rumah”. Apa yang bisa kulukiskan memang begitulah
resiko keluarga besar dengan berbagai karakter orang didalamnya.
Dulu aku
berpikir bahwa poligami itu hanya untuk orang-orang yang tidak punya
keturunan (seperti yang terjadi pada Nabi Ibrahim As.), menikahi
janda para syuhada (seperti Rasulullah SAW.), bolehlah dibilang untuk
kasus-kasus khusus. Aku juga berpikir bahwa kalo orang yang melakukan
poligami itu tulang rusuknya terpecah jadi rempah-rempah, begitu aku
mengatakannya Umma hanya tertawa kecil.
“Ya nggak
lah Nung, tulang rusuk itu kan penciptaan Allah untuk kaum hawa”.
“Apakah
Abah pernah meminta ijin sebelum menikah lagi?”
“Ijin dari
istri itu hanya berlaku untuk pegawai Nung, dalam agama memangnya kau
pernah mendengar Rasulullah meminta ijin Aisyah untuk menikah dengan
istri-istrinya yang lain? cobalah pahami lagi hukum yang sebenarnya
dan bedakan dengan apa yang telah disesuaikan dengan budaya kita”.
Oo…oh apakah selama ini aku yang salah paham ya??? sepengetahuanku
suami harus meminta ijin terlebih dahulu pada istri pertamanya, baru
jika sang istri mengijinkan sang suami boleh melakukan pernikahan
yang kedua…
“Tapikan
istri sah harus mengetahuinya bukan?”, aku berusaha mengemukakan
pendapatku.
“Iya..Istri
pertama boleh mengetahuinya, tapi itu tidak ada kaitannya dengan
mengijinkan menikah lagi atau tidak”.
“Kenapa
Kau takut jika suamimu nanti melakukan poligami ya?”, tanya Umma
penuh selidik. Aku menjawab pertanyaan Umma hanya dengan cengiran
aja.
“Umma ga
sakit hati, cemburu atau apalah itu namanya kalo Abah ga ada di
rumah?”, tanyaku lebih lanjut.
“Bohong
kalo seandainya istri yang dipoligami itu tidak merasa cemburu, tapi
bukankah Ibu haji juga berhak untuk mendapatkan perlakuan yang sama.
Umma sangat cemburu padanya, tapi Umma hanya berharap mendapatkan
balasan kasih sayang yang lebih dari Allah. Umma hanya takut akan
murka Allah jika tidak membolehkan Abah bersamanya. Dunia ini hanya
untuk sementara, Umma hanya ingin mendapatkan kemuliaan di sisi Allah
di akhirat kelak”.
Ahh…
Cinta… memang tiada batasnya, apalagi jika semua dilakukan hanya
untuk Allah semata.
*********
Beberapa
minggu berselang setelah kejadian itu, rasa penasaran itu masih ada.
Keberuntungan ada di pihakku (hehehehe…) hari itu aku berkesempatan
menemani Ibu haji untuk menjemput sodaranya.
“Rasulullah
mempunyai beberapa istri tetapi Aisyah menjadi prioritas utama”,
aku memulai percakapan di tengah perjalanan.
“Bukankah
ada perbedaan, meskipun itu kecil. Bagaimana Ibu haji menyikapinya?”,
aku bertanya setelah aku menjelaskan keadaan Umma dan Ibu haji.
“Memang
ada perbedaan, tapi kan itu hanya masalah-masalah yang sepele. Apa
yang seperti itu harus dibesar-besarkan? Apa yang saya dan kakak
lakukan semata-mata hanya demi Allah, untuk meraih cinta yang hakiki,
cinta Allah SWT”.
Aku ga bisa
ngomong apa-apa lagi, rasanya semua pertanyaan yang ada dalam
pikiranku telah terjawab semua. Aku belajar banyak dari dua orang ibu
yang sangat luar biasa pengabdiannya pada suami dan cintanya kepada
Allah SWT. Yaaaahhhh… Dunia ini tidak ada harganya jika
dibandingkan dengan sosok istri yang sholihah.
<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>
before
nulis….
****
kriiing…
kriiiing…. kriiiiing….
“Hallo”
“Assalamu’alaikum,
Umma”
“Wa’alaikumsalam,
masih hidup kau?”, ciri khas Umma kalo anaknya jarang telpon.
“Masih
donk, nih buktinya bisa nelpon”, jawabku disebrang sambil
cengar-cengir. “Umma, Aa Gym poligami”
“Aa Gym
yang poligami, kenapa kau yang heboh?”. tanya Umma.
“Nggak,
siapa yang heboh. Nung nganggap hal itu biasa aja. Nung tuh ingin
berbagi cerita aja, Nung mo nulis apa yang Umma rasakan tentang
poligami, itu tuh.. yang Nung tanyakan pada Umma beberapa tahun yang
lalu”. “Umma kan pernah bilang Nung ga boleh ngomong sama
siapa-siapa, Nung pegang janji itu hingga sekarang. Tapi saat ini
Nung ingin menulisnya, makanya Nung minta
ijin”.
“Tulis
aja, tapi ga usah pake nama”.
“Makasih
ya, udah dulu Umma, lagi di kantor nih, pulsa Nung lagi abis
hehehe…”.
“Jangan
lupa jaga sholatmu, wirid, jangan lupa baca shalawat”.
Ah.. Umma
rasanya tak henti-hentinya Engkau mengingatkan anakmu ini, terima
kasih untuk cinta yang tidak terbatas. Setelah menutup pembicaraan
dengan salam, aku kembali meneruskan editing laporan yang udah
menumpuk di meja.
******
<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>
Untuk tiga
orang Ibu yang sangat luar biasa, Ummi, Umma dan Ibu haji…
Thank you
for everything, I love you…..
Dalam setiap
detak jantungku, aku yakin Allah akan memberikan yang terbaik untukku…
*******